Bumi Indonesiaku Menangis
Bumi Indonesiaku melihat anak-anaknya sibuk dengan gadget mereka.
Bumi Indonesiaku melihat anak-anaknya sibuk menggandeng pacar dari pada bukunya.
Bumi Indonesiaku terpana, gadget telah menjadi sahabat manusia.
Bumi Indonesiaku terkesima, anak SMP sudah jadi orang tua.
Bumi Indonesiaku melihat pemimpin-pemimpinnya ribut karena harta.
Bumi Indonesiaku melihat pemimpin-pemimpinnya ribut karena tahta.
Bumi Indonesiaku hanya diam, sudah biasa, itu kata rakyatnya.
Bumi Indonesiaku menyimpan tanya, rakyatnya berkata, itu urusan mereka.
Mengapa begini? Mengapa begitu? Tanya Bumi Indonesiaku,
Kata rakyatnya, kami hanya "wong cilik", yang tak paham akan hal itu,
Wong cilik, yang masih memikirkan cara agar dapur mengepul,
Wong cilik, yang masih memikirkan cara agar anak-anak tersenyum.
Bumi Indonesiaku rasanya semakin renta, dengan hutan yang gundul dan polusi udara.
Bumi Indonesiaku rasanya semakin merana, karena alamnya dan juga manusianya.
Sleman, 8 Oktober 2017
Sebuah puisi lama oleh Devi Ayu Mustikoweni
Sabtu, 12 Januari 2019
Bumi Indonesiaku Menangis
Diposting oleh DamustikaDevi di 06.25Selasa, 01 Januari 2019
Masjid Al Akbar Surabaya
Diposting oleh DamustikaDevi di 01.58
Jadi ceritanya pengen banget ke masjid ini. Pada akhirnya berhasil keliling masjid dan menemukan menara masjid yang bisa dinaiki via lift dengan membayar infaq sebesar Rp7000,- (1 Januari 2019). Dapat beberapa foto dari atas menara. Thanks so much buat Mbak Atici yang sudah menemani.
All photos were taken by Devi
Masjid Al AkbarDevi dan kubah masjid
Masjid dan Jalan Tol Mojokerto
Jalan Tol
Jalan Tol (lagi)
Menara Masjid
Rabu, 28 November 2018
Wanita
Diposting oleh DamustikaDevi di 13.01Ah... Wanita...
Hatinya begitu lembut...
Hatinya begitu rapuh...
Ah... Wanita...
Memang suka dimanja...
Memang suka diperlakukan berbeda...
Dihargai dan dihormati...
Diperlakukan layaknya seorang putri...
Ah... Wanita...
Wanita yang pernah begitu terluka
Hatinya tetap saja menjadi hati seorang wanita
Walaupun ia akan tetap waspada
Ah... Wanita...
Ia membuka hatinya hanya untuk dia
Dia yang datang pada orang tuanya
Karena...
Baginya semua laki-laki sama saja
Baginya semua laki-laki tidak berbeda
Hanya ia yang datang padanya dengan keyakinan yang nyata
Keyakinan untuk membuktikan kepada orang tuanya
Hanya ia yang membuktikan padanya
Bahwa ia satu-satunya lelaki yang berbeda
Lelaki yang akan selalu menjadikannya istimewa
Subscribe to:
Postingan (Atom)








