Kamis, 02 Januari 2014

tugas cerpen bahasa indonesia

tugas jaman kelas 3 SMA nih kayaknya


Istana Emas Seorang Pemuda
Dinginnya malam menusuk tulang seorang pemuda yang sedang menatap beribu-ribu bintang di langit. Pemuda yang bernama Rahmat itu duduk termangu dan berandai-andai. Dia berpikir, “ Andaikan aku seorang pengusaha kaya, akan kudirikan sebuah istana emas untuk keluargaku, orang tuaku, dan semua orang yang membantuku menjadi kaya. Akan ku ajak mereka hidup di bawah atap istanaku yang megah.”
Rahmat terus berandai-andai hingga tanpa dia sadari, pagi telah menyapanya dengan adzan subuh yang memanggil agar sholat didirikan.
“Kak.. Kak Rahmat. Sudah adzan, kak. Ayo sholat berjama’ah,” Rani yang sedari tadi membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur, mengetuk dan memanggil sang kakak.
“Iya, Ran,” Rahmat berdiri dengan terhuyung untuk mengambil air wudhu. Setelah sholat ia sarapan, mandi dan berangkat ke tempat kerja seperti biasa.
            Di kantor, dia masih saja berkhayal tentang istana emas. Mimpinya tentang istana emas terus menyita pikirannya. Entah mengapa, seperti ada ikatan dengan istana emas itu. “Apakah aku seorang pangeran yang dilahirkan kembali menjadi seorang pemuda sederhana ya?” pikir si Rahmat dengan serius. “Mungkin aku akan menemukan cinta sejatiku yaitu seorang putri cantik sehingga aku akan mendapatkan istana emas seperti dalam mimpiku,” angan-angan Rahmat melambung dan melayang.
“Mat, kau dipanggil Pak Bejo tuh! Sepertinya mau dapat komisi atau proyek baru” Joko tiba-tiba mendatanginya dengan wajah berbinar-binar.
“Yang benar saja? Kemarin aku baru saja kena marah karena pekerjaan yang ku selesaikan tidak sesuai dengan keinginannya. Mana mungkin dia akan memberikan hadiah atau sesuatu yang baik?” Rahmat tidak meyakini ucapan rekan kerja yang satu rasa satu jiwa itu.
“Kali ini kamu harus percaya, Mat,” Joko meyakinkan kawannya untuk berbaik sangka kepada bos yang terkenal sangat kaku ini. Sebenarnya dia mendengar bahwa pekerjaan yang tidak sesuai dengan kehendak si bos itu cocok dengan para petinggi dan pejabat di perusahaan pusat. Maka dari itulah dia percaya bahwa rahmat akan mendapat hadiah atas pekerjaannya itu.
“Oke oke. Aku akan menemuinya,” sahut Rahmat dengan sedikit rasa malas dan rasa ragu yang menggelayuti dadanya.
            Di setiap langkahnya menuju ruangan Pak Bejo, dia merasakan degup jantung yang semakin cepat. Tangannya mulai terasa dingin dan bayangan pemecatan bagaikan muncul di depan matanya begitu saja. Tapi dia teringat bahwa dialah karyawan paling rajin dan selalu menaati aturan. Dia tak pernah menyelewengkan pekerjaannya dan menjaga amanah dengan baik. Saat dia tiba di depan ruangan Pak Bejo, dia menerik napas panjang dan mulai mengetuk.
“Tok, tok, tok,” suara ketukan Rahmat pada pintu kayu yang berukir indah itu.
“Ya, masuk,” sahut Pak Bejo.
“Ada apa pak memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu,” ujar Rahmat dengan sopan. Walaupun ia mencoba menutupi kekacauan perasaannya tapi deburan rasa tak tenang masih menerjang hatinya.
“Mulai hari ini, anda tak perlu datang ke kantor lagi. Ini ada sangu dari kantor dan silahkan bereskan barang-barang anda,” tanpa sangka dan duga, Pak Bejo memecatnya begitu saja hanya dengan alasan pekerjaan yang tidak sesuai dengan pemikiran dan keinginan Pak Bejo. Sebenarnya Pak Bejo  melakukan semua ini karena dia merasa usul dari karyawannya berbahaya. Berbahaya untuk menggeser posisi anaknya yang sedang diusulkannya untuk naik menjadi kepala bagian dimana Rahmat dan anaknya bekerja. Apalagi setelah ide cemerlang Rahmat di akui oleh para petinggi dan pejabat di perusahaan pusat. Rahmat yang tak bisa berkutik menerima pemecatan itu.
Hari berikutnya, Rahmat mencari pekerjaan baru dengan begitu bersemangat. Ibu dan adiknya membutuhkannya untuk mencari uang. Mereka sedih saat mendengar penuturan Rahmat tentang pemecatannya. Walaupun begitu, mereka tetap mendukungnya untuk mencari pekerjaan baru.  Semua itu tidak membuat Rahmat tenang, tetap saja ada rasa mengganjal dalam hati pemuda itu, Ingin rasanya dia membalas dendam kepada Pak Bejo. Ingin dia beberkan semua rahasia perusahaan agar memudahkannya untuk mendapat posisi di perusahaan lain dan menghancurkan cabang perusahaan yang dipegang Pak Bejo. Tapi dia teringat pesan ayahnya sebelum meninggal, “Anakku, apapun yang terjadi bersikaplah jujur, amanah, pemaaf dan ramah. Jangan pernah sekalipun Kau tinggalkan sholat dan puasa. Saat menjadi orang sukses, jangan lupakan orang-orang yang pernah berjasa padamu. Jagalah adik dan ibumu.” Tanpa terasa air matanya menetes mengingat sang Ayah yang dia cintai.
“Saya ingin melamar  pekerjaan disini. Adakah lowongan? Walaupun sebagai cleaning service tidak apa-apa, ” melihat raut muka bersungguh-sungguh dari Rahmat, seseorang yang diajaknya berbicara itupun memberikannya pekerjaan sebagai staf di bidang public relation. Kesungguhan Rahmat dalam bekerja membuat karir di perusahaan itu sangat melejit. Keramahan dan kerendah hatiannya tak membuat teman-temannya iri melainkan senang dan memberinya ucapan selamat. Akhirnya kesuksesan itu dia genggam. Mimpi-mimpinya tentang istana emas pun mulai terwujud. Bukan istana emas dalam bentuk nyata tetapi kehidupan seperti dalam istana emas dimana dia bisa membahagiakan dan berbagi dengan semua orang yang dia sayangi. Keluarga kecil barunya, orang tuanya, dan semua orang yang membantunya menjadi kaya. Keluarga kecil barunya ia dapatkan dari seseorang yang diajaknya berbicara dan memberikannya pekerjaan di perusahaan itu, direktur dari perusahaan itu, yang melihat kesungguhan dan keuletan Rahmat serta tanggung jawabnya selama ia bekerja. Kesungguhan dan bakat Rahmat terlihat di tempat lain yang lebih menghargainya walaupun dia sudah disia-siakan di perusahaan lamanya. Kesungguhan dan pantang menyerahnya yang membantu dia mencapai semua itu.

Manajemen SDM di Koperasi, Bukan Korporasi



Sebelum saya mengulas tentang manajemen SDM di koperasi alangkah baiknya jika kita mengetahui tentang arti manajemen dan koperasi itu sendiri. Manajemen adalah proses pencapaian tujuan organisasi melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian SDM dan sumberdaya lainnya yang dimiliki organisasi (Sumber: Gugup Kismono, Bisnis Pengantar Edisi 2, hlm:142). Sedangkan manajemen SDM adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pelepasan SDM agar tercapai tujuan yang diinginkan (Sumber: Gugup Kismono, Bisnis Pengantar Edisi 2, hlm:183). Manajemen SDM seringkali disebut manajemen personalia. Setelah menjabarkan ari manajemen SDM, saya ingin menjabarkan arti dari koperasi. Menurut UU No 25 Tahun 1992 Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang, atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan azaz kekeluargaan.
Kita dapat menyimpulkan apa yang dimaksud dengan Manajemen SDM di Koperasi dari ulasan di atas. Manajemen SDM di Koperasi adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan kegiatan-kegiatan pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pelepasan SDM koperasi agar tercapai tujuan yang diinginkan oleh koperasi. Saat kita membaca, pengucapan kata  koperasi dan korporasi terasa tidak jauh berbeda. Akan tetapi, arti dan makna dari kedua kata tersebut sangat jauh berbeda. Korporasi adalah organisasi bisnis yang berbentuk badan hukum, di mana tanggung jawab dan kewajiban usaha terpisah dari pemilik modalnya (Sumber: Gugup Kismono, Bisnis Pengantar Edisi 2, hlm:119).
SDM di korporasi yang memerlukan pengelolaan penuh adalah orang-orang yang terlibat dalam proses usaha sementara orang yang memiliki saham cukup menanamkan saham, menunggu deviden tanpa perlu banyak berperan secara aktif. Sedangkan sumber daya manusia di koperasi ada dua macam, yaitu sumber daya manusia sebagai anggota koperasi dan sumber daya manusia sebagai bagian dari usaha yang dilakukan dalam pengelolaan koperasi. Oleh sebab itu, saya membedakan menjadi dua bagian untuk mengulas tentang manajemen SDM di koperasi.
1.      Manajemen SDM yang berperan sebagai anggota koperasi
Proses perencanaan SDM hanya perlu menentukan perkiraan jumlah anggota, cakupan wilayah dan mayoritas anggota koperasi. Proses pengorganisasian SDM yaitu dengan melakukan pembukaan penerimaan anggota dan pelatihan-pelatihan tertentu agar anggota paham tentang perkoperasian. Prinsip keanggotaan koperasi yang sukarela dan terbuka menjadikan tidak terbatasnya jumlah anggota dan tidak ada seleksi dalam penerimaannya.
Pengarahan yaitu melakukan usaha-usaha agar informasi yang diberikan kepada anggota dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan kesalahan dalam penerimaan informasi.. Koordinasi yaitu adanya komunikasi dua arah atau timbal balik agar anggota rutin melakukan kewajiban dan membantu anggota agar mendapatkan informasi yang diperlukan untuk kelancaran proses pencapaian tujuan. Anggota koperasi akan mendapat SHU setiap 1 tahun.
Pengawasan adalah usaha mengawasi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh anggota koperasi agar tujuan-tujuan yang diharapkan dapat terwujud dan tidak terjadi kesalahan dalam prosesnya. Sehingga anggota yang melakukan kesalahan atau tidak memenuhi kewajiban dalam jangka waktu tertentu dapat dikenakan sanksi yang telah ditentukan.
2.      Manajemen SDM yang terlibat dalam pengelolaan usaha koperasi
Proses perencanaan SDM adalah proses menentukan kebutuhan SDM yang jumlah dan kualitasnya sesuai dengan yang dibutuhkan.Perencanaan SDM di koperasi ditentukan oleh usaha apa yang dikelola oleh koperasi dan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan (permintaan tenaga kerja) agar tujuan koperasi tercapai. Penawaran dari pasar tenaga kerja juga harus dipertimbangkan untuk menentukan perencanaan yang matang. Hal-hal yang mempengaruhi permintaan tenaga kerja antara lain perubahan lingkungan eksternal (ekonomi, social, politik, teknologi), organisasional (rencana strategic, anggaran, desain pekerjaan), dan lingkungan kerja (absensi, pension, pemberhentian kerja). Dalam merencanakan SDM koperasi, perlu ditentukan tujuan dari perencanaan tersebut lalu strategi dan taktik pencapaian yang sejalan dengan tujuan dan prinsip dari koperasi itu sendiri.
Proses pengorganisasian SDM akan lebih baik jika digariskan secara jelas fungsi dan pembagian fungsi, hubungan fungsi dan struktur organisasi usaha. Untuk mengorganisasikan SDM perlu adanya analisis pekerjaan, deskripsi pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan sebelum mengadakan perekrutan SDM. Deskripsi pekerjaan adalah uraian mengenai profil pekerjaan secara menyeluruh sehingga saat diadakan perekrutan kita dapat menentukan klasifikasi dari calon yang direkrut. Setelah mendapatkan SDM, pihak manajemen melakukan pembagian tugas, pendidikan dan pelatihan bagi SDM baru.
Pengarahan meliputi usaha-usaha memberikan perintah yang dikomunikasikan secara baik sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana dan keinginan awal.  Pengarahan disini setelah SDM mendapat jabatan tertentu. Mereka akan diarahkan untuk melakukan pekerjaan sesuai bidangnya dan sesuai dengan tujuan koperasi.
Koordinasi yaitu adanya komunikasi dua arah atau timbal balik antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpin yang bertujuan agar kepemimpinan stabil sehingga timbul kelancaran dalam mencapai tujuan. SDM yang sudah direkrut akan diberikan tugas-tugas tertentu sesuai bidangnya. SDM juga akan mendapat kompensasi balas jasa sesuai dengan perannya.
Pengawasan adalah usaha mengawasi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perangkat koperasi agar tujuan-tujuan yang diharapkan dapat terwujud dan tidak terjadi kesalahan dalam prosesnya. Proses pengawasan ini meliputi penilaian kinerja SDM dan pengawasan selama mengerjakan pekerjaannya. Di koperasi, kegiatan pengawasan dilakukan oleh pengawas dan anggota. Hal itu sesuai dengan prinsip koperasi yang berbunyi pengawasan demokratis oleh anggota.
Secara umum, manajemen SDM di koperasi yang menjadi anggota saja maupun yang terlibat dalam proses pengelolaan di dalam koperasi memiliki bagian-bagian yang sama yaitu proses perencanaan SDM, pengorganisasian SDM, pengarahan, koordinasi, pengawasan. Akan tetapi tindak lanjut dari setiap proses akan memiliki beberapa perbedaan karena perbedaa peran antara anggota yang hanya menjadi anggota, anggota yang terlibat dalam proses usaha ataupun orang-orang yang bukan anggota tetapi memiliki peran serta dalam pengembangan dan pengelolaan koperasi maupun usaha-usaha yang ada di koperasi. Tiga serangkai yang dikenal sebagai manajemen koperasi yang akan menjalankan tata laksana kehidupan koperasi adalah rapat anggota, pengurus, pengawas.
Pada dasarnya ada perbedaan-perbedaan yang menyebabkan perbedaan manajemen koperasi dan manajemen dalam perusahaan. Perusahaan yang dimaksud dalam ulasan ini termasuk korporasi. Pada perusahaan, pengelolaan didasarkan atas kepentingan stakeholder, kebutuhan untuk memperoleh keuntungan,kemandirian perorangan, pembagian sumber tergantung kepemilikan modal, kekuatan suara bergantung pada kepemilikan modal dan keanggotaan tidak bersifat terbuka. Sedangkan di koperasi, pengelolaan didasarkan atas kepentingan bersama, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan anggota, kemandirian koperasi, pembagian SHU tergantung pada keaktifan anggota sebagai pemilik maupun pelanggan serta partisipasi aktif dalam pengelolaan koperasi, kekuatan suara tidak berdasarkan simpanan anggota tetapi setiap anggota memiliki satu suara, keanggotaan koperasi bersifat suka rela dan terbuka.
Oleh: Devi Ayu Mustikoweni
Sumber referensi:
Kismono,Gugup. 2011. Bisnis Pengantar edisi 2. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Reksohadiprojo, Sukanto. 1998. Manajemen Koperasi. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Sudarsono dan Edilius. 2000. Manajemen Koperasi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

cerita misteriku ke 2: Bertualang Bersama Teman

Kamis, 14 April 2011
Bertualang Bersama Teman

Sara dan Vena, dua remaja yang mengikuti kegiatan kemah pada Sabtu sore itu. Entah karena apa mereka berdua secara bersamaan terlambat datang ke kemah. Vena mengantar orang tuanya ke dokter sedangkan Sara terlambat karena ada beberapa urusan penting yang harus dia selesaikan terlebih dahulu. Tentunya mereka tetap diperbolehkan mengikuti kegiatan itu.Mereka datang saat jarum jam menunjukkan pukul 7 malam. Acara yang tersisa hari itu adalah api unggun dan membakar jagung. Sara membagi jagung manisnya kepada Vena.
“Maaf ya, Ra. Kau kan tahu aku pelupa,” kata Vena.
“Ah.. sudah biasa. Kalau kau tidak lupa, itu malah aneh. Hahaha,” Sara menimpali.
Api unggun menyala sangat besar, Vena yang tidak sabar menunggu jagungnya matang melemparkan jagung itu ke dalam nyala api.
“Ra, jagungnya di masukan ke situ saja. Pasti matang lebih cepat,” Vena berniat melempar jagungnya ke dalam api unggun.
 “Ih.. dengan campuran minyak tanah? Tidak. Terima kasih. Aku masih sayang diriku.”
“Hey. Yang bagian pojok tidak kena minyak. Daripada kita menunggu lama. Hmmm… jagungku sudah matang, rasanya seperti barbeque lho,” Vena menikmati jagung bakarnya.
 Banyak di antara peserta kemah mencoba cara Vena walaupun sebagian masih berkutat dengan pemanggang arang yang panasnya bagaikan lilin. Pantaslah jika sang jagung tak kunjung matang.
            Malamnya mereka tidur di tenda yang sudah mereka buat pada sore hari. Tentu saja tenda Vena dan Sara merupakan buatan teman satu kelompok mereka. Vena dan Sara tinggal menempati tenda yang agak, bahkan bisa dibilang kurang nyaman. Kira-kira pukul setengah satu malam, kakak pendamping pramuka membangunkan mereka dengan tiba-tiba dalam keadaan gelap gulita. Mereka harus membawa co-card yang mereka dapatkan saat registrasi sore dan berkumpul di lapangan basket. Vena mencari co-card yang sudah dia kaitkan di baju pramukanya. Tiada disangka, salah satu temannya sudah mengacak-acak baju itu dan melempar entah kemana. ‘Thok’ sikut salah satu teman mengenai kepala Vena.
“Haduh, sakit. Ini baju kemana sih.”
“Cepet dik! Cepet! Gitu aja kok lama!” kakak pendamping mengomando dengan suara agak ngeri-ngeri gimana.
Akhirnya vena keluar dengan co-card yang untungnya terkait di baju yang dia pakai. Ternyata dia hanya bermimpi memindahkan co-card itu ke baju pramuka yang dia sampirkan di atas tasnya.
“Co-card. Co-card. Kamu itu kecil-kecil nyusahin aku aja,” keluh Vena saat di lapangan.
Banyak juga yang tidak membawa co-card sehingga sebagai konsekuensi, para peserta kemah harus lari keliling lapangan basket tiga kali, di dini hari pukul 12.30.
Kakak pendamping meminta perwakilan regu untuk menanggung hukuman karena kesalahan anggota regu. Lalu mereka dibawa ke suatu tempat entah di mana. Anggota regu harus mencari petunjuk dan menemukan perwakilan regu mereka. Kebetulan yang menjadi wakil regu Vena dan Sara adalah Ara, gadis berjilbab yang juga ketua regu mereka. Anggota regu Vena dan Sara berkumpul, bergandengan tangan dan mulai melangkah ke dalam area perkemahan.
“Aduh,” Entah karena takut atau dingin. Salah seorang dari temannya memegang erat bahkan meremas tangan Vena, yang tidak lain dan tidak bukan “Sara. Kamu mau membuat tanganku putus ya?”
“Hehehe. Habisnya aku takut. Gelap banget,” Sara takut karena bulu kuduknya merinding tiba-tiba. Apa yang akan mereka hadapi?
            Mereka berjalan di lorong-lorong yang di tempati dua pocong jadi-jadian. Mereka lari tunggang langgang menjauhi pocong-pocong itu. Padahal jelas sekali salah satu pocong memakai kain yang kurang panjang, sehingga celana pramuka dan sepatu hitamnya terlihat. Mungkin karena kaget dan panik, mereka tidak memperhatikannya. Mereka mengambil jalan memutar agak jauh dari lokasi tadi dan munculah regu lain yang mengeluhkan dua pocong di lorong tadi. Akhirnya mereka kembali ke lorong yang di tempati dua pocong tadi dan mencoba bersama-sama melewati pocong itu, tapi masih tidak berani. Regu Vena dan Sara memutar balik lagi dan mencoba lewat jalan saat mereka bertemu regu lain. Vena dan salah satu temannya melihat dua pocong lagi yang duduk di antara laboratorium kimia dan biologi. Dua pocong yang agak tipis dan tidak bergerak. ‘Aneh’ pikir Vena, biasanya pocong jadi-jadian akan bergerak aktif dan menakut-nakuti mereka, entah mengejar atau sekedar bergerak.
“Fat? Kamu lihat kan?” Tanya Vena pada Fatima.
”Ya aku lihat kok, dua kan?” jawab Fatima.
‘Syukurlah’ Vena berkata dalam hati. Setidaknya ada orang lain yang lihat. Berarti itu memang pocong jadi-jadian.
“Eh, di situ ada dua lagi temen-temen, tapi duduk tuh. Lewat aja yuk. Mereka nggak nyerang kaya yang tadi kok,” kata Vena.
“Kalau mendekat nanti kita serang bareng-bareng,” tambah Vena.
Entah apa yang dia rasakan. Vena hanya ingin melewati dua pocong yang sedang duduk itu. Kenapa mereka mau berjaga di area yang sepi dan gelap. Area yang lebih gelap dan sepi bila dibandingkan dengan lorong-lorong. Mungkin sudah tugas mereka di situ.
Teman-temannya tidak mau dan tetap berteriak ketakutan. Akhirnya mereka kembali ke lorong yang di tempati dua pocong lagi. Bersama sekelompok regu putra, akhirnya mereka dapat melewati pocong tadi. Mereka naik ke aula dan mencari Ara.
“Ara… Ara… ” mereka memanggil Ara yang menjadi salah satu patung tak bersuara yang membeku bersama dua pocong yang hanya diam saja di dalam ruangan bernama aula.
“Prittt……………..” suara peluit panjang menandakan mereka harus segela kembali ke lapangan walaupun tidak menemukan Ara.
Setelah selesai mereka berbincang-bincang tentang para pocong jadi-jadian yang mereka temui. Mereka menertawakan para pocong yang gagal menyamar menjadi pocong.
“Tapi dua pocong yang di laboratorium keren lho. Mereka diem aja. Malah kaya pocong beneran. Ya kan Fat?” ujar Vena.
“Iya. Tapi karena kita udah liat beberapa kali malah jadi lucu. Nggak nakutin,” jawab Fatima.
“Sayangnya kita nggak liat. Masih sibuk menjerit ketakutan dan menutup mata. Hahaha,” ujar Sara.
“Rugi lho. Jarang tuh pocongnya diem. Jadi cuma aku sama Fatima deh yang lihat,” Vena mengeluh.
“Bener banget,” timpal Fatima.
Mereka kembali ke tenda dan tidur. Pagi harinya ada kegiatan ‘materi’ yang berlangsung di aula. Kakak pendamping bertanya seberapa seru kemarin malam dan apa saja yang mereka lihat.
“Adik-adik pada lihat pocong berapa?” Tanya sang pendamping.
“Tiga, Empat,” mereka menjawab.
“Lima eh enam, kak,” jawab Fatima dan Vena.
“Pocongnya kan cuma empat ,dik. Memang kalian lihat dimana saja?” tanya sang kakak.
“Di lorong ada dua, di antara laboratorium biologi dan kimia ada dua, terus di aula juga dua ,kak,” jawab Vena.
“Nggak ada yang di laboratorium, dik. Hayo… apa itu? Jangan-jangan beneran. Hahahaha,” tawa kakak pendamping.
Fatima dan Vena saling berpandangan. ‘Terus siapa yang dua itu?’ pikir mereka di dalam kepala masing-masing.

Oleh Devi Ayu M.
11 / X-Immerse SMA N 1 Klaten
Di ambil dari pengalaman pribadi