Kamis, 02 Januari 2014

puisi lama ^^



Di Ujung Langit
Adakah yang tahu namanya?
Desah angin tak menyampaikannya
Bisikan nada tak menyanyikannya.
Kemanakah arah langkahnya?
Tanah tanpa jejak, tanpa pola, tanpa peta tuk menyusulnya.
Berkompaskan bintang-bintang dan mata angin.
Menuju ujung langit yang ingin diraih.
Membaca dengan isyarat dan berjalan dengan firasat.
Intuisi, akal, hati dan raga yang lelah.
Siapakah dia? Dimanakah dia? Siapa namanya?
Ujung langit menyimpan semua tanya dan jawab.
Kesana untuk mengikuti, dengan bekal dan alas kaki tua.
Puluhan langkah.. Yakinkah kau akan menemukannya?
Dia oh dia, aku dan kau mencarinya.
Jangan kau bertanya padaku lalu kau menepiskanku.
Petaku, kompasku, kita mencarinya bersama.
Egomu egoku, bukankah semua hanya masalah ruang dan waktu?
Kau bawa tanyamu dan ku bawa tanyaku.
Di ujung langit itu, dia sedang menunggu.
Dengan jawaban untukku dan untukmu.

Karya: Devi Ayu Mustikoweni
(11 / XII IPA 8 / SMA Negeri 1 Klaten)

Khutbah makna Insya'Allah



Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillahirabbil’alamin
Asyhaduala’ilaha’ilallah wa asyhaduanna muhammadarrasulullah
Allahummasholialasayidinamuhammad wa’ala ali sayidina muhammad

Saudaraku seiman dan seperjuangan. Pernahkah kalian mendengar seseorang mengatakan “Insya Allah”? Apa yang terpikir di benak kalian saat orang tersebut mengucapkan kata Insya Allah. “Pasti bohong. Pasti nggak niat. Halah, mesti nggak datang.” Apa itu yang sempat terlintas di benak kalian? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Mengapa terjadi hal seperti itu?
Kata Insya Allah dulu dan sekarang telah mengalami pergeseran makna. Walau seharusnya makna itu tidak boleh berubah. Namun karena terjadi pergeseran budaya dan perilaku para pemakai kata 'Insya Allah', seolah-olah makna itu bergeser. Padahal seharusnya, makna kata itu akan tetap sama hingga dunia berakhir
Mari kita telisik. Kalau dahulu, lebih-lebih di zaman Rasulullah, kata Insya Allah nyaris bermakna atau berarti sebuah 'kepastian' kecuali Allah berkehendak lain. Artinya bahwa begitu seseorang  mengucapkan kata 'Insya Allah' dalam sebuah janji, maka itu adalah suatu jaminan akan sebuah kepastian bahwa mereka akan menepati janji terkecuali Allah berkehendak lain, barulah hal itu tidak bisa terealisasi.
Namun sekarang, orang begitu gampang mengucapkan kata 'Insya Allah' sekalipun untuk sesuatu yang sebenarnya sulit untuk ia lakukan bahkan sangat kecil kemungkinannya dapat ia penuhi. Tidak sedikit pula orang yang mengucapkan kata itu dengan terbesit niat di dalam hati untuk tidak merealisasikan ucapannya itu. Ucapan itu sengaja disampaikan sekedar untuk pemanis atau sebagai penolakan secara halus untuk tidak memenuhi janji tersebut. Mungkin karena pergeseran makna kata 'Insya Allah' yang dianggap hanya tergantung sikon dan perasaan hati belaka, bukan tergantung pada ketentuan Allah. Segampang itukah kita beralasan, kita tidak tahu apakah kita sudah cukup berusaha atau tidak. Tanpa sengaja kita telah menggunakan Allah sebagai tameng, kita gunakan Insya Allah sebagai alasan. Na’udzubillah.
Apa makna dari kata insya Allah yang sebenarnya?  Kata Insya Allah berarti penyerahan dari diri kita kepada Allah akan hasil akhir dari segala usaha kita, karena sekeras apapun dan secermat apapun usaha kita, tergantung kepada Allah yang menghendaki atau tidak. Jadi selama kita tidak udzur (sakit, berpergian, dan kematian), janji yang kita ucapkan dengan kata Insya Allah, adalah WAJIB untuk ditunaikan.
Salah satu contohnya jika ada yang berkata, "Besok saya akan datang ke rumah kamu untuk membicarakan pekerjaan." Orang itu tidak mempunyai jaminan kalau ia maupun orang yang dia beri janji akan tetap hidup samapai besok. Kalaupun besok bisa pergi,  waktu dan tempatnya bisa berubah, mungkin juga orang itu tidak berkemampuan (sakit, bepergian, dan lain-lain). Jadi, manusia tidak kuasa menentukan, semua dikembalikan kepada yang mengaturnya, yaitu Allah.

Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Keesokan harinya wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Tentu saja "kegagalan" ini menjadi cemoohan kaum kafir.
(Sumber: Milist Daarut-Tauhiid)

Saat itulah turun ayat menegur Nabi,
 "Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu : 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali dengan menyebut (Insya Allah).' Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah : 'Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini.'."
(QS. Al-Kahfi : 23-24).

Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah. Lalu, apakah kita hanya akan selalu menjadikan Insya Allah sebagai tameng untuk tidak memenuhi janji? Kawanku yang ku cinta, Mari kita rubah pandangan dan pemikiran ini agar makna Insya Allah yang sebenarnya dapat kembali! Semua kebenaran hanya milik Allah dan apabila ada kesalahan saya minta maaf karena kesalahan itu berasal dari diri saya sendiri sebagai seorang manusia.

Akhirulkalam. Wabillahitaufik wal hidayah. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

tugas cerpen bahasa indonesia

tugas jaman kelas 3 SMA nih kayaknya


Istana Emas Seorang Pemuda
Dinginnya malam menusuk tulang seorang pemuda yang sedang menatap beribu-ribu bintang di langit. Pemuda yang bernama Rahmat itu duduk termangu dan berandai-andai. Dia berpikir, “ Andaikan aku seorang pengusaha kaya, akan kudirikan sebuah istana emas untuk keluargaku, orang tuaku, dan semua orang yang membantuku menjadi kaya. Akan ku ajak mereka hidup di bawah atap istanaku yang megah.”
Rahmat terus berandai-andai hingga tanpa dia sadari, pagi telah menyapanya dengan adzan subuh yang memanggil agar sholat didirikan.
“Kak.. Kak Rahmat. Sudah adzan, kak. Ayo sholat berjama’ah,” Rani yang sedari tadi membantu ibunya menyiapkan sarapan di dapur, mengetuk dan memanggil sang kakak.
“Iya, Ran,” Rahmat berdiri dengan terhuyung untuk mengambil air wudhu. Setelah sholat ia sarapan, mandi dan berangkat ke tempat kerja seperti biasa.
            Di kantor, dia masih saja berkhayal tentang istana emas. Mimpinya tentang istana emas terus menyita pikirannya. Entah mengapa, seperti ada ikatan dengan istana emas itu. “Apakah aku seorang pangeran yang dilahirkan kembali menjadi seorang pemuda sederhana ya?” pikir si Rahmat dengan serius. “Mungkin aku akan menemukan cinta sejatiku yaitu seorang putri cantik sehingga aku akan mendapatkan istana emas seperti dalam mimpiku,” angan-angan Rahmat melambung dan melayang.
“Mat, kau dipanggil Pak Bejo tuh! Sepertinya mau dapat komisi atau proyek baru” Joko tiba-tiba mendatanginya dengan wajah berbinar-binar.
“Yang benar saja? Kemarin aku baru saja kena marah karena pekerjaan yang ku selesaikan tidak sesuai dengan keinginannya. Mana mungkin dia akan memberikan hadiah atau sesuatu yang baik?” Rahmat tidak meyakini ucapan rekan kerja yang satu rasa satu jiwa itu.
“Kali ini kamu harus percaya, Mat,” Joko meyakinkan kawannya untuk berbaik sangka kepada bos yang terkenal sangat kaku ini. Sebenarnya dia mendengar bahwa pekerjaan yang tidak sesuai dengan kehendak si bos itu cocok dengan para petinggi dan pejabat di perusahaan pusat. Maka dari itulah dia percaya bahwa rahmat akan mendapat hadiah atas pekerjaannya itu.
“Oke oke. Aku akan menemuinya,” sahut Rahmat dengan sedikit rasa malas dan rasa ragu yang menggelayuti dadanya.
            Di setiap langkahnya menuju ruangan Pak Bejo, dia merasakan degup jantung yang semakin cepat. Tangannya mulai terasa dingin dan bayangan pemecatan bagaikan muncul di depan matanya begitu saja. Tapi dia teringat bahwa dialah karyawan paling rajin dan selalu menaati aturan. Dia tak pernah menyelewengkan pekerjaannya dan menjaga amanah dengan baik. Saat dia tiba di depan ruangan Pak Bejo, dia menerik napas panjang dan mulai mengetuk.
“Tok, tok, tok,” suara ketukan Rahmat pada pintu kayu yang berukir indah itu.
“Ya, masuk,” sahut Pak Bejo.
“Ada apa pak memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu,” ujar Rahmat dengan sopan. Walaupun ia mencoba menutupi kekacauan perasaannya tapi deburan rasa tak tenang masih menerjang hatinya.
“Mulai hari ini, anda tak perlu datang ke kantor lagi. Ini ada sangu dari kantor dan silahkan bereskan barang-barang anda,” tanpa sangka dan duga, Pak Bejo memecatnya begitu saja hanya dengan alasan pekerjaan yang tidak sesuai dengan pemikiran dan keinginan Pak Bejo. Sebenarnya Pak Bejo  melakukan semua ini karena dia merasa usul dari karyawannya berbahaya. Berbahaya untuk menggeser posisi anaknya yang sedang diusulkannya untuk naik menjadi kepala bagian dimana Rahmat dan anaknya bekerja. Apalagi setelah ide cemerlang Rahmat di akui oleh para petinggi dan pejabat di perusahaan pusat. Rahmat yang tak bisa berkutik menerima pemecatan itu.
Hari berikutnya, Rahmat mencari pekerjaan baru dengan begitu bersemangat. Ibu dan adiknya membutuhkannya untuk mencari uang. Mereka sedih saat mendengar penuturan Rahmat tentang pemecatannya. Walaupun begitu, mereka tetap mendukungnya untuk mencari pekerjaan baru.  Semua itu tidak membuat Rahmat tenang, tetap saja ada rasa mengganjal dalam hati pemuda itu, Ingin rasanya dia membalas dendam kepada Pak Bejo. Ingin dia beberkan semua rahasia perusahaan agar memudahkannya untuk mendapat posisi di perusahaan lain dan menghancurkan cabang perusahaan yang dipegang Pak Bejo. Tapi dia teringat pesan ayahnya sebelum meninggal, “Anakku, apapun yang terjadi bersikaplah jujur, amanah, pemaaf dan ramah. Jangan pernah sekalipun Kau tinggalkan sholat dan puasa. Saat menjadi orang sukses, jangan lupakan orang-orang yang pernah berjasa padamu. Jagalah adik dan ibumu.” Tanpa terasa air matanya menetes mengingat sang Ayah yang dia cintai.
“Saya ingin melamar  pekerjaan disini. Adakah lowongan? Walaupun sebagai cleaning service tidak apa-apa, ” melihat raut muka bersungguh-sungguh dari Rahmat, seseorang yang diajaknya berbicara itupun memberikannya pekerjaan sebagai staf di bidang public relation. Kesungguhan Rahmat dalam bekerja membuat karir di perusahaan itu sangat melejit. Keramahan dan kerendah hatiannya tak membuat teman-temannya iri melainkan senang dan memberinya ucapan selamat. Akhirnya kesuksesan itu dia genggam. Mimpi-mimpinya tentang istana emas pun mulai terwujud. Bukan istana emas dalam bentuk nyata tetapi kehidupan seperti dalam istana emas dimana dia bisa membahagiakan dan berbagi dengan semua orang yang dia sayangi. Keluarga kecil barunya, orang tuanya, dan semua orang yang membantunya menjadi kaya. Keluarga kecil barunya ia dapatkan dari seseorang yang diajaknya berbicara dan memberikannya pekerjaan di perusahaan itu, direktur dari perusahaan itu, yang melihat kesungguhan dan keuletan Rahmat serta tanggung jawabnya selama ia bekerja. Kesungguhan dan bakat Rahmat terlihat di tempat lain yang lebih menghargainya walaupun dia sudah disia-siakan di perusahaan lamanya. Kesungguhan dan pantang menyerahnya yang membantu dia mencapai semua itu.